<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Menuju Ridhonya</title>
	<atom:link href="http://gurukeatif.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gurukeatif.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 Oct 2010 15:33:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='gurukeatif.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Menuju Ridhonya</title>
		<link>http://gurukeatif.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://gurukeatif.wordpress.com/osd.xml" title="Menuju Ridhonya" />
	<atom:link rel='hub' href='http://gurukeatif.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Antara Perang Khandaq dan Hudaibiyah (bagia II)</title>
		<link>http://gurukeatif.wordpress.com/2010/10/03/antara-perang-khandaq-dan-hudaibiyah-bagia-ii/</link>
		<comments>http://gurukeatif.wordpress.com/2010/10/03/antara-perang-khandaq-dan-hudaibiyah-bagia-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Oct 2010 15:33:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bustamam Ismail</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://gurukeatif.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Demikian  inilah  persiapan  kehidupan  sosial  yang baru yang dikehendaki oleh Islam untuk suatu  masyarakat  umat  manusia. Landasannya  ialah  mengubah  sama-sekali pandangan masyarakat itu akan hubungan  laki-laki  dengan  wanita.  Ia  menghendaki dihapusnya   segala   tanggapan   tentang  sex  (libido)  yang menguasai pikiran manusia &#8230; <a href="http://gurukeatif.wordpress.com/2010/10/03/antara-perang-khandaq-dan-hudaibiyah-bagia-ii/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=13&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Demikian  inilah  persiapan  kehidupan  sosial  yang baru yang dikehendaki oleh Islam untuk suatu  masyarakat  umat  manusia. Landasannya  ialah  mengubah  sama-sekali pandangan masyarakat itu akan hubungan  laki-laki  dengan  wanita.  Ia  menghendaki dihapusnya   segala   tanggapan   tentang  sex  (libido)  yang menguasai pikiran manusia selama ini,  dan  dalam  segala  hal menganggapnya   sebagai  satu-satunya  yang  berkuasa.  Dengan demikian yang dikehendaki  ialah  mengarahkan  masyarakat  itu sesuai  dengan  tujuan  hidup  umat  manusia yang lebih tinggi dengan tidak mengurangi kesenangan hidupnya, yaitu  kesenangan hidup yang  tidak  akan  mengurangi pula kebebasannya untuk berkeinginan &#8211; apalagi sampai akan  menghilangkan  kebebasan untuk  berkeinginan  ini  -  dan yang akan melahirkan hubungan manusia dengan  semesta  alam.  Dari  tingkat  hidup  mengolah tanah, dari tingkat hidup usaha perindustrian dan perdagangan, yang bagaimana pun, ke  tingkat  yang  lebih  tinggi,  setaraf dengan  kehidupan  orang-orang  suci,  dan  akan berkomunikasi dengan  cara  malaikat.  Puasa,  salat, zakat  yang  telah ditentukan  oleh  Islam,  ialah alat untuk mencapai taraf ini; yang  akan  mencegah   perbuatan   keji,   kemungkaran   serta pelanggaran.  Sekaligus  ia  akan  membersihkan  jiwa dan hati orang dari segala penyakit  menghambakan  diri  selain  kepada Allah,  disamping  memperkuat  tali persaudaraan antara sesame orang  beriman,  memperkuat  hubungan  antara  manusia  dengan segala yang ada dalam semesta alam ini.<span id="more-13"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>A. Islam menyusun Masyarakat baru </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penyusunan  suatu  kehidupan  sosial  secara  berangsur-angsur sebagai suatu  persiapan  kearah  transisi  besar  yang  telah disediakan  oleh Islam bagi umat manusia ini, tidak mengurangi pihak  Quraisy  dan   kabilah-kabilah   Arab   lainnya   dalam menantikan  kesempatan  hendak  menghancurkan Muhammad.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>B. Nabi menaikkan kewibawaan dengan membangun kekuatan iman dan fisik</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi juga Muhammad tidak kurang pula selalu waspada. Cepat-cepat ia bergerak  untuk  menanamkan rasa takut dalam hati pihak musuh, bila dianggap perlu.</p>
<p style="text-align:justify;">Itu sebabnya, enam bulan kemudian setelah Banu  Quraiza  dapat dihancurkan,  ia  sudah merasakan adanya suatu gerakan lain di sekitar Mekah. Terpikir olehnya akan membalas kematian Khubaib b. &#8216;Adi dan kawan-kawannya yang telah dibunuh oleh Banu Lihyan di Raji&#8217; dua tahun yang lalu itu. Akan  tetapi  maksudnya  ini tidak  diumumkan, kuatir pihak musuh akan segera berjaga-jaga. Untuk dapat menyergap pihak musuh ia pura-pura pergi ke  Syam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan membawa perlengkapan perang ia berangkat menuju ke arah utara. Setelah yakin sekali bahwa Quraisy dan  sekutu-sekutunya  yang berdekatan  tak  ada yang menyadari maksudnya, ia pun membelok ke  arah  Mekah  dengan  berjalan  lebih  cepat  lagi.  Tetapi sesampainya  di  perkampungan Banu Lihyan di &#8216;Uran, masyarakat setempat telah melihatnya  ketika  pertama  kali  ia  menyusur jalan  ke  selatan.  Dari mereka inilah Banu Lihyan mengetahui bahwa ia menuju ke tempat mereka. Mereka pun segera berlindung ke  puncak-puncak  bukit  dengan membawa harta-benda yang ada. Nabi tidak sampai berhasil menyergap mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika itu ia lalu menugaskan Abu Bakr dengan membawa  seratus orang pasukan menuju &#8216;Usfan2 tidak jauh dari Mekah. Rasulullah sendiri kemudian kembali ke Medinah. Ketika  itu  panas  musim sedang sampai di puncaknya, sehingga Nabi berkata: &#8220;<strong><em>Yang kembali dan  yang  bertobat      jika  dikehendaki Allah kiranya    kepada  Tuhan  juga  kami   memuji   syukur.   Saya berlindung kepada Allah dari perjalanan yang sangat meletihkan ini, serta  kedukaan  karena  diri  kembali  dari  perjalanan3 dengan keburukan yang tampak pada keluarga dan harta-benda.&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>&#8216;Uyaina b.  Hishn  menyerang  pinggiran  kota</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Baru   beberapa   malam  saja  Muhammad  kembali  ke  Medinah, tiba-tiba datang &#8216;Uyaina b.  Hishn  menyerang  pinggiran  kota itu.   Di   tempat   tersebut  ada  beberapa  ekor  unta  yang digembalakan, dijaga oleh seorang laki-laki dengan  isterinya. Laki-laki  itu  oleh  &#8216;Uyaina dan kawan-kawannya dibunuh, unta diambil dan perempuan itu dibawa. Mereka segera pergi dengan perkiraan  bahwa  mereka  telah  dapat menyelamatkan diri dari pengejaran. Tetapi sebenarnya Salama b. &#8216;Amr bin&#8217;l-Akwa&#8217;  yang sudah   lebih   dulu   memacu   kudanya  menuju  hutan  dengan bersenjatakan    panah    dan    busur,    ketika    melintasi Thaniat&#8217;l-Wada&#8217;  dan  menjenguk  ke bawah dari arah bukit Sal&#8217; rombongan yang sedang menggiring unta dan membawa  wanita  itu dilihatnya.  Ketika  itu  pula  ia  berteriak  meminta bantuan sambil terus mengikuti jejak rombongan itu. Ia melepaskan anak panahnya  ke  arah mereka, setelah ia berada agak lebih dekat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pada itu tiada henti-hentinya ia berteriak. Dan teriakan Salama itu akhirnya sampai juga kepada Muhammad. Maka kemudian ia pun memanggil-manggil penduduk  Medinah:  Ada  bahaya!  Ada bahaya! Seketika  itu  juga pahlawan-pahlawan kota datang dari segenap penjuru.  Setelah  mendapat  perintah  mereka  pun   berangkat mengikuti jejak gerombolan itu.  Dia  sendiri mempersiapkan pasukannya lalu berangkat  menyusul  mereka.  Ia  berhenti  di sebuah gunung di bilangan Dhu Qarad.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara  itu  &#8216;Uyaina  dan  anak  buahnya  sudah mempercepat langkah,  ingin  lekas-lekas  bergabung  dengan Ghatafan  dan melepaskan  diri dari pengejaran Muslimin. Akan tetapi pasukan Medinah berhasil mencapai barisan belakang mereka. Sebahagian unta  itu  dapat  diselamatkan  kembali  dari  tangan  mereka. Kemudian Muhammad datang menyusul dan  memberikan  bantuannya. Wanita  beriman  yang  dibawa  oleh  orang-orang  Arab itu pun selamat pula.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa orang dari sahabat-sahabat Nabi,  terdorong  oleh rasa panas hati, ingin terus mengejar &#8216;Uyaina. Tetapi dilarang oleh Rasulullah, sebab sudah diketahuinya  bahwa  &#8216;Uyaina  dan anak  buahnya  sudah  sampai ke tempat Ghatafan dan berlindung</p>
<p style="text-align:justify;">kepada mereka. Bila kaum Muslimin kemudian kembali ke Medinah, isteri penjaga itu  pun  datang  pula  menyusul di atas seekor unta kepunyaan kaum Muslimin. Wanita itu sudah bernadar, bahwa kalau unta itu dapat  diselamatkan,  akan disembelihnya seekor sebagai kurban buat Tuhan. Tetapi setelah nadanya disampaikan  kepada  Nabi&#8217;</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi  berkata:  &#8220;<strong><em>Suatu  balasan yang buruk sekali, Tuhan sudah mengantarkan engkau dan menyelamatkan engkau dengan unta  itu, lalu  unta  itu  yang  akan  kausembelih. Nadar dengan berdosa kepada Tuhan tidak  berlaku,  juga  atas  sesuatu  yang  tidak kaupunyai.&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sesudah  itu  Muhammad  tinggal  di  Medinah  hampir dua bulan<strong><em> </em></strong>sudah.  Kemudian  terjadi  suatu   ekspedisi   terhadap   Banu<strong><em> </em></strong>Mushtaliq  di  Muraisi&#8217; &#8211; suatu ekspedisi yang telah dijadikan<strong><em> </em></strong>bahan studi oleh setiap ahli sejarah dan penulis sejarah hidup<strong><em> </em></strong>Nabi. Soalnya bukan karena ekspedisi itu sangat penting, atau<strong><em> </em></strong>karena kedua belah pihak &#8211; Muslimin dan musuhnya  -  bertempur<strong><em> </em></strong>mati-matian  sampai  melampaui  batas, tetapi karena kenyataan<strong><em> </em></strong>adanya malapetaka yang kemudian hampir menjalar kedalam  tubuh</p>
<p style="text-align:justify;">Muslimin  sendiri  kalau  tidak segera Rasul mengambil langkah yang sangat baik sekali, tegas  dan  meyakinkan;  juga  karena kemudian  Rasul  kawin  dengan  Juwairiah  bt.  al-Harith, dan karena ekspedisi ini telah  pula  menimbulkan  hadith&#8217;l-ifk  &#8211; peristiwa  kebohongan  -  tentang  diri  Aisyah. Peristiwa ini telah menempatkannya kedalam persoalan iman dan kekuatan  hati &#8211; sementara usianya masih enambelas tahun &#8211; sehingga segalanya tidak akan berdaya, hanya karena keagungan iman  dan  kekuatan hati itu jugalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa  kegiatan  Banu Mushtaliq &#8211; yang merupakan bagian dari Khuza&#8217;a  -  yang   telah   mengadakan   persepakatan   dalam perkampungan  mereka  di  dekat  Mekah, beritanya telah sampai pula kepada Muhammad. Mereka sedang mengerahkan segala potensi dengan  maksud  hendak  membunuh Muhammad dengan dipimpin oleh komandan mereka Al-Harith b. Abi Dzirar. Rahasia ini diperoleh Muhammad   dari   salah   seorang   orang  badwi.  Maka  iapun cepat-cepat berangkat sementara mereka sedang lengah,  seperti biasanya  bila ia menghadapi musuh. Pimpinan pasukan Muhajirin di tangan Abu Bakr dan pimpinan pasukan Anshar di tangan  Sa&#8217;d b.  &#8216;Ubada.  Pihak  Muslimin ketika itu sudah berada di sebuah pangkalan air yang bernama Muraisi&#8217;, tidak jauh  dari  wilayah Banu  Mushtaliq. Kemudian Banu Mushtaliq dikepung. Pihak-pihak yang tadinya datang  hendak  memberikan  pertolongan  sekarang mereka sudah lari. Dari Banu Mushtaliq sepuluh orang terbunuh&#8217; dari  Muslimin  seorang,  konon  bernama  Hisyam  b.  Shubaba, dibunuh  oleh  salah  seorang  dari Anshar, yang keliru dikira dari pihak musuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah terjadi sedikit saling hantam dengan  panah, tak  ada jalan  lain  buat Banu Mushtaliq mereka harus menyerah dibawah tekanan pihak Muslimin  yang  kuat  dan  bergerak  cepat  itu. Mereka  dibawa  sebagai  tawanan  perang,  begitu  juga wanita mereka, unta dan binatang  ternak  yang  lain.  Dalam  pasukan tentara  itu  Umar  ibn&#8217;l-Khattab  mempunyai orang upahan yang bertugas menuntunkan kudanya. Selesai  pertempuran  orang  ini pernah  berselisih  dengan salah seorang dari kalangan Khazraj</p>
<p style="text-align:justify;">karena  soal  air.  Mereka  jadi   berkelahi   dan   sama-sama berteriak.  Pihak  Khazraj  berkata: &#8220;Saudara-saudara Anshar!&#8221; Sedang  orang  sewaan  Umar  berkata  pula:   &#8220;Saudara-saudara Muhajirin!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>C. Abdullah b. Ubayy pemimpin Munafiq</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Teriakan  demikian  itu terdengar juga oleh Abdullah b. Ubayy, yang ketika itu bersama-sama dengan orang-orang munafik  turut pula  dalam  ekspedisi  dengan  harapan  akan  beroleh  bagian rampasan perang. Dendamnya kepada pihak  Muslimin  dan  kepada Muhammad  segera  timbul.  Dalam  hal  ini  ia  berkata kepada kawan-kawannya:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<strong><em>Di kota kita ini sudah banyak kaum Muhajirin.  Penggabungan kita  dengan mereka akan seperti kata peribahasa: &#8216;Membesarkan anak harimau.&#8217;<sup>4</sup> Sungguh, kalau kita sudah kembali ke  Medinah, orang yang berkuasa akan mengusir orang yang lebih hina</em></strong>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian  kepada  golongannya yang hadir waktu itu ia berkata: &#8220;<strong><em>Inilah yang telah kamu perbuat sendiri. Kamu benarkan mereka</em></strong> <strong><em>tinggal  di  negerimu  ini, dan kamu bagi harta-bendamu dengan</em></strong> <strong><em>mereka. Demi Allah, kalau apa yang  ada  pada  kamu  itu  kamu</em></strong> <strong><em>pertahankan, pasti mereka akan beralih ke tempat lain</em></strong>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Percakapannya  itu dibawa orang kepada Rasulullah, yang ketika itu  baru  selesai   menghadapi musuh. Ketika   itu   Umar ibn&#8217;l-Khattab hadir. Mendengar itu Umar marah sekali. &#8220;<strong><em>Perintahkan kepada Bilal supaya membunuhnya</em></strong>,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti  biasanya,  disini  Nabi  memperlihatkan sikap sebagai seorang  pemimpin  yang  sudah  matang,  bijaksana  dan  punya pandangan jauh. Berpaling kepada Umar ia berkata: &#8220;<strong><em>Umar  bagaimana  kalau  sampai  menjadi pembicaraan orang dan</em></strong> <strong><em>orang mengatakan, bahwa Muhammad  membunuh  sahabat-sahabatnya</em></strong> <strong><em>sendiri?&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akan  tetapi  dalam  pada itu ia sudah mempertimbangkan, bahwa soalnya akan jadi rumit  sekali  kalau  tidak  segera  diambil langkah  yang  tegas.  Oleh  karena  itu diperintahkannya agar diumumkan  untuk  segera  berangkat  dalam  waktu  yang  tidak</p>
<p style="text-align:justify;">biasanya  kaum  Muslimin  meninggalkan tempat itu. Berita yang disampaikan orang kepada  Nabi  itu  sampai  juga  kepada  Ibn Ubayy.  Cepat-cepat  ia  menemui  Nabi hendak membantah adanya berita yang dihubungkan kepadanya itu. Ia bersumpah atas  nama Tuhan,  bahwa  dia  tidak  mengatakan  dan tidak pernah bicara begitu. Tetapi ini tidak mengubah  keputusan  Muhammad  hendak meninggalkan tempat itu. Bahkan sepanjang hari hingga sore dan sepanjang malam hingga  pagi  harinya  lagi  terus-menerus  ia memimpin  perjalanan  itu  hingga  pada pertengahan hari kedua tatkala terik matahari sudah terasa sangat mengganggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah sampai, karena sudah sangat lelah, begitu badan mereka menyentuh  lantai,  mereka  pun segera tertidur. Karena sangat lelah orang sudah lupa cakap Ibn  Ubayy.  Sesudah  itu  mereka pulang   ke   Medinah   dengan  membawa  rampasan  perang  dan orang-orang  tawanan  Banu  Mushtaliq,  diantaranya   Juwairia bint&#8217;l-Harith b. Abi Dzirar, pemimpin dan komandan daerah yang sudah dikalahkan itu. Kaum Muslimin sudah sampai di Medinah. Abdullah ibn Ubayy  pun sudah  di  sana. Ia sudah tidak pernah tenang, hatinya gelisah selalu, terbawa oleh rasa dengki kepada  Muhammad  dan  kepada Muslimin.  Pura-pura  ia  sebagai  orang Islam, bahkan sebagai orang beriman, meskipun masih gigih ia membantah  berita  yang bersumber  dari  dia  ditujukan  kepada Rasulullah di Muraisi&#8217; itu. Pada waktu itulah Surah Munafiqin ini turun:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mereka  itulah  yang  berkata:  &#8220;<strong><em>Jangan  memberikan   bantuan apa-apa  kepada  mereka  yang  di  sekitar  Rasulullah, supaya mereka berpisah.&#8221; Padahal  segala  perbendaharaan  langit  dan bumi   milik  Allah.  Tetapi  orang-orang  munafik  itu  tidak mengerti. Kata mereka: &#8220;Kalau kita sudah kembali  ke  Medinah, orang  yang  berkuasa  akan  mengusir  orang yang lebih hina.&#8221; Padahal sebenarnya kekuasaan itu  milik  Allah  dan  Rasul-Nya beserta  orang-orang  yang  beriman,  hanya  saja  orang-orang munafik itu tidak mengetahui.&#8221; (Qur&#8217;an, 63: 7-8)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>D. Putra Abdullah b. Ubay memohon kepada Nabi UntukMembunuh  bapak yang munafiq.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan  demikian  lalu  ada  orang-orang  yang  mengira  bahwa ayat-ayat  itu  merupakan hukuman terhadap Abdullah bin Ubayy, dan Muhammad  pasti  akan  memerintahkan  supaya  ia  dibunuh. Ketika  itu  Abdullah b. Abdullah b. Ubayy, yang sudah menjadi seorang Muslirn yang baik, datang dengan mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<strong><em>Rasulullah,saya mendengar tuan ingin  supaya  Abdullah  b. Ubayy  itu dibunuh. Kalau memang begitu, tugaskanlah pekerjaan itu kepada saya. Akan  saya  bawakan  kepalanya  kepada  tuan. Orang-orang  Khazraj  sudah  mengetahui,  tak  ada  orang yang begitu berbakti kepada ayahnya seperti yang saya lakukan. Saya kuatir  tuan  akan  menyerahkan  tugas  ini kepada orang lain. Kalau sampai orang lain itu yang membunuhnya, maka saya takkan dapat  menahan  diri, membiarkan orang yang membunuh ayah saya itu berjalan bebas. Tentu akan saya bunuh dia dan berarti saya membunuh  orang  beriman  yang membunuh orang kafir. Maka saya akan masuk neraka</em></strong>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah kata-kata  Abdullah  b.  Abdullah  b.  Ubayy  kepada Muhammad.  Saya  rasa tak ada suatu kata-kata yang lebih dalam dari ucapannya itu dengan begitu kuat meskipun  singkat  dalam melukiskan  suasana  batin  yang  sedang  gelisah,  batin yang dibawa oleh pengaruh  pergolakan  yang  dahsyat  sekali  dalam jiwanya: gelisah karena pengaruh rasa berbakti kepada ayah dan pengaruh iman yang sungguh-sungguh disamping rasa  harga  diri sebagai  orang  Arab  serta  rasa  cintanya akan kesejahteraan Muslimin supaya jangan tirnbul dendam yang berlarut-larut.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah  perasaan  seorang  anak  yang  melihat  ayahnya   akan dibunuh.  Dia  tidak  minta  kepada Nabi supaya ayahnya jangan dibunuh, sebab dia  Nabi,  dia  akan  tunduk  kepada  perintah Tuhan,  dan  yakin pula akan keingkaran ayahnya. Tetapi karena kuatir akan sampai menuntut balas kepada orang yang kelak akan membunuh  ayahnya  yang  diharuskan  oleh rasa baktinya kepada ayah dan oleh rasa  kehormatan  dan  harga  diri  -  maka  dia sendirilah  yang akan memikul beban itu, dia sendiri yang akan membunuh ayahnya;  kepalanya  akan  dibawanya  sendiri  kepada Nabi, betapapun itu akan sangat menyayat hati dan perasaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan  imannya  itu  ia  merasa  agak  mendapat  hiburan juga menghadapi hal luar biasa yang menekan perasaan itu.Ia kuatir akan masuk  neraka  apabila  ia  membunuh seorang mukmin yang telah mendapat perintah Nabi membunuh ayahnya.  Sungguh  suatu perjuangan  yang  sangat  dahsyat  antara  iman  di satu pihak dengan perasaan dan moral  di  pihak  lain.  Suatu  perjuangan batin  yang  sungguh  fatal  menghunjam ke dalam hati, sungguh tragis!  Tetapi,  tahukah  kita  betapa  jawaban  Nabi  kepada Abdullah setelah mendengar itu?</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<strong><em>Kita  tidak  akan membunuhnya. Bahkan kita harus berlaku baik kepadanya,  harus  menemaninya  baik-baik  selama  dia   masih bersama dengan kita.&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Memaafkan.  Sungguh indah dan agung maaf itu. Muhammad berlaku begitu baik kepada orang yang telah menghasut penduduk Medinah supaya  memusuhinya  dan  memusuhi sahabat-sahabatnya. Biarlah sikap baiknya dan kemaafannya itu  memberi  bekas  yang  lebih dalam daripada kalau ia menjatuhkan hukuman kepada orang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak  itu  apabila Abdullah b. Ubayy mencoba mau bermain api, golongannya sendiri menegurnya, menyalahkannya dan  membuatnya ia  merasa  bahwa  sisa  hidupnya itu dari pemberian Muhammad.</p>
<p style="text-align:justify;">Tatkala pada suatu hari Nabi sedang bicara-bicara dengan  Umar mengenai    masalah-masalah  kaum Muslimin, sampai   juga menyebut-nyebut  Abdullah  b.  Ubayy&#8217;  begitu   juga   tentang golongannya sendiri yang menegurnya dan menyalahkannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<strong><em>Umar,  bagaimana  pendapatmu</em></strong>,&#8221;  kata Muhammad. &#8220;<strong><em>Ya, kalau kau bunuh dia ketika  kaukatakan  kepadaku  supaya  dibunuh  saja, tentu akan jadi gempar karenanya. Kalau sekarang kusuruh bunuh tentu akan kaubunuh.&#8221; </em></strong> &#8220;<strong><em>Sungguh sudah saya ketahui, bahwa perintah  Rasulullah  lebih</em></strong> <strong><em>besar artinya daripada perintah saya</em></strong>.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Semua  peristiwa  itu  terjadi  setelah kaum Muslimin – dengan membawa tawanan dan rampasan perang &#8211; kembali ke Medinah. Akan tetapi  lalu  ada  suatu  peristiwa  yang  pada  mulanya tidak memberi bekas apa-apa,  tetapi  kemudian  menjadi  pembicaraan</p>
<p style="text-align:justify;">yang  panjang  juga.  Soalnya  ialah  Nabi  mengadakan  undian terhadap  isteri-isterinya  bila  akan  berangkat   mengadakan ekspedisi.  Barangsiapa  yang  keluar namanya maka dialah yang ikut  serta.  Sorenya  pada  waktu  mau  mengadakan  ekspedisi terhadap  kepada  Banu  Mushtaliq, maka yang keluar ialah nama Aisyah. Jadi dia yang dibawa.  Aisyah  adalah  seorang  wanita yang   berperawakan   kecil,   ringan.  Bila  pelangkin  sudah diantarkan orang sampai di depan pintu rumahnya, dia pun naik. Lalu  mereka  membawanya pada punggung unta. Karena ringannya, mereka hampir tidak dapat merasakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selesai Nabi dari tugas perjalanan itu, dengan rombongannya ia berangkat  lagi  meneruskan perjalanan yang panjang dan sangat meletihkan seperti sudah kita sebutkan. Sesudah itu ia  menuju Medinah.  Sampai  di  suatu  tempat dekat kota ia berhenti dan bermalam di tempat itu. Kemudian diumumkan  kepada  rombongan, perjalanan akan diteruskan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>E.Aisyah ketinggalan dari rombongan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Karena  hendak  menunaikan  hajat,  Aisyah  ketika  itu sedang keluar dari kemah Nabi, sedang  pelangkin  sudah  menunggu  di depan  kemah,  menantikan  ia masuk kembali. Aisyah mengenakan seutas kalung yang ketika sedang  menyelesaikan  keperluannya, kalung  itu  lepas dari lehernya. Sesudah siap kembali ia akan berangkat, dirabanya kalung itu sudah tidak  ada.  Ia  kembali menyusur  jalan  sambil  mencari-carinya.  Dan barangkali lama juga ia mencarinya, baru  kemudian  benda  itu  diketemukannya kembali.  Mungkin sementara itu ia terlena karena sudah begitu lelah selepas perjalanan itu. Bila ia kembali ke markas  untuk kemudian  naik ke atas pelangkin, ternyata pelangkin itu sudah dipasang kembali di punggung unta dengan perkiraan  bahwa  dia sudah  berada  didalamnya  lalu  mereka  berangkat juga dengan anggapan bahwa mereka sedang  membawa  Umm&#8217;l-Mu&#8217;minin,  isteri yang  sangat  dekat ke dalam hati Nabi. Dalam markas itu orang yang akan dapat ditanyai tidak ada.  Dia tidak merasa takut bahkan dia yakin bahwa apabila rombongan itu nanti mengetahui dia tidak ada, tentu mereka akan kembali ke tempatnya  semula.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi  lebih  baik  dia tidak meninggalkan tempat itu; daripada mengarungi  padang  pasir  tanpa pedoman; ia akan sesat karenanya. Tanpa  merasa  takut, dengan berselimutkan pakaian luarnya ia berbaring di tempat itu, sambil menunggu orang yang akan datang mencarinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara  ia  sedang  berbaring  itu,  Shafwan bin&#8217;l-Mu&#8217;attal lewat di tempat tersebut, yang juga terlambat  dari  rombongan tentara  karena  harus  menunaikan  urusannya  pula.  Ia sudah pernah  melihatnya  sebelum  ada  ketentuan   hijab   terhadap isteri-isteri Nabi. Setelah melihatnya, ia terkejut sekali dan surut sambil berkata: &#8220;Inna lillahi wa  inna  ilaihi  raji&#8217;un! Isteri  Rasulullah  s.a.w.?  Kenapa  sampai tertinggal? Semoga rahmat  Tuhan  juga.&#8221;  Aisyah  tidak  menjawab.  Didekatkannya untanya itu dan dia sendiri mundur sambil berkata: &#8220;Naiklah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah  Aisyah  naik  kemudian  ia  berangkat dengan unta itu cepat-cepat hendak menyusul rombongan yang lain. Tetapi  tidak terkejar  juga, karena ternyata mereka mempercepat perjalanan, ingin  segera  sampai  di  Medinah,  agar  dapat  beristirahat setelah  mengalami perjalanan yang cukup meletihkan, yang juga diperintahkan oleh Rasulullah guna menghindarkan  fitnah  yang hampir-hampir terjadi akibat perbuatan Ibn Ubayy itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Shafwan memasuki Medinah pada siang hari disaksikan oleh orang banyak sementara Aisyah  di  atas  untanya.  Sampai  di  depan rumahnya  dalam  rangkaian  rumah  isteri-isteri Rasul, ia pun masuk. Tak terlintas dalam pikiran orang bahwa  hal  ini  akan dijadikan  buah  bibir,  atau  akan menimbulkan syak karena ia terlambat  dari  rombongan,  juga  dalam  hati   Rasul   tidak terlintas  suatu  prasangka  buruk  terhadap  Shafwan, seorang orang mukmin yang beriman teguh.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D</p>
<p style="text-align:justify;">oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gurukeatif.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gurukeatif.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gurukeatif.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gurukeatif.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gurukeatif.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gurukeatif.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gurukeatif.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gurukeatif.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gurukeatif.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gurukeatif.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gurukeatif.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gurukeatif.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gurukeatif.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gurukeatif.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=13&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurukeatif.wordpress.com/2010/10/03/antara-perang-khandaq-dan-hudaibiyah-bagia-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c17efad95300cdec6c05333e0e24319?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hbis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Implementation of Morality Values (أَخْلاَقُ الْكَرِيْمَةِ)</title>
		<link>http://gurukeatif.wordpress.com/2008/01/24/implementation-of-morality-values-%d8%a3%d9%8e%d8%ae%d9%92%d9%84%d8%a7%d9%8e%d9%82%d9%8f-%d8%a7%d9%84%d9%92%d9%83%d9%8e%d8%b1%d9%90%d9%8a%d9%92%d9%85%d9%8e%d8%a9%d9%90/</link>
		<comments>http://gurukeatif.wordpress.com/2008/01/24/implementation-of-morality-values-%d8%a3%d9%8e%d8%ae%d9%92%d9%84%d8%a7%d9%8e%d9%82%d9%8f-%d8%a7%d9%84%d9%92%d9%83%d9%8e%d8%b1%d9%90%d9%8a%d9%92%d9%85%d9%8e%d8%a9%d9%90/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 04:01:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bustamam Ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nilai moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurukeatif.wordpress.com/2008/01/24/implementation-of-morality-values-%d8%a3%d9%8e%d8%ae%d9%92%d9%84%d8%a7%d9%8e%d9%82%d9%8f-%d8%a7%d9%84%d9%92%d9%83%d9%8e%d8%b1%d9%90%d9%8a%d9%92%d9%85%d9%8e%d8%a9%d9%90/</guid>
		<description><![CDATA[A. Foreword  Individual of modern society frequently face constraint of personality disintegration. It means a value of religious is not integrated in behavioral implementation of everyday life. Human being in modern society oftentimes dissociate between religious or values of confidence &#8230; <a href="http://gurukeatif.wordpress.com/2008/01/24/implementation-of-morality-values-%d8%a3%d9%8e%d8%ae%d9%92%d9%84%d8%a7%d9%8e%d9%82%d9%8f-%d8%a7%d9%84%d9%92%d9%83%d9%8e%d8%b1%d9%90%d9%8a%d9%92%d9%85%d9%8e%d8%a9%d9%90/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=11&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">A. Foreword</font></span></b><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span></b></p>
<p align="justify"><b><span style="color:black;"></span></b><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Individual of modern society frequently face constraint of personality disintegration. It means a value of<span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><a rel="attachment wp-att-12" href="http://gurukeatif.wordpress.com/2008/01/24/implementation-of-morality-values-%d8%a3%d9%8e%d8%ae%d9%92%d9%84%d8%a7%d9%8e%d9%82%d9%8f-%d8%a7%d9%84%d9%92%d9%83%d9%8e%d8%b1%d9%90%d9%8a%d9%92%d9%85%d9%8e%d8%a9%d9%90/12/" title="sopan.jpg"><img align="right" src="http://gurukeatif.files.wordpress.com/2008/01/sopan.jpg?w=500" alt="sopan.jpg" /></a></font></span> religious is not integrated in behavioral implementation of everyday life. Human being in modern society oftentimes dissociate between religious or values of confidence with existing values in science, more make account of one of than combine both. This matter is strengthened by Dewey in Ghulam Haider Aasi: “</span><i><span>The problem of restoring integration and cooperative between man’s beliefs about the world in which he lives and his beliefs about the values and purposes that should direct his conduct is the deepest problem of modern life.”<a name="_ednref1" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn1" title="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><b><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></b></span></span></span></a><span dir="rtl"></span></span></i></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Human being is responsible to create a harmonious and the prosperity bliss live for a present and future life as according to God will through His messengers.<span id="more-11"></span> This clarification include meaning of integrity among ability of active human being to look after, managing nature, and the messages which implied in the will of The Most Creator (Allah SWT) in creating this nature.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Due to this description, the point getting more clear that perfect individual of human being characterized at least by two basic elements which interdependent each other, that is between science element domination (science and technological) with moral element, ethics, or the behavior (akhlaqul karimah). This matter in accordance with Act of The Republic of Indonesia, Number 20, Year 2003, On National Education System, Article 3, that <i>the national education functions to develop the capability, character, and civilization of the nation for enhancing its intellectual capacity, and is aimed at developing learners’ potentials so that they persons imbued with human values who are faithful and pious to one and only God; who possess morals and noble character; who are healthy, knowledgeable, competent, creative, independent; and as citizens, are democratic and<span>  </span>responsible</i>.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Indonesian nation have experienced of challenge from various life aspect covering information globalization impact, endless economics crisis, nation disintegration, and rare of employment. Even hitherto, social and moral crisis still dominate nation and state life. These conditions—have consequence—decrease the quality of social life in general.</font></span><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Based on this reason, The Government of Indonesia has conducted various efforts to overcome the issues. One of them is developing human resource so that become solid. Preeminent human resource represent biggest factor to save Indonesian nation from various troublesome. The excellence human resources include the core important science aspect, technological, and the noble character (akhlaqul karimah) or moral. These aspects always implemented in running national education system in </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;">, either through explicit or implicit.</span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">These aspects represent spirit of union of national education substances. This matter is inspired by the fact that how many world of education especially in </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;"> have wrong emphasis toward education that is only at domain of ICT, neglected side of behavior and kindness of nation ethic. <span> </span>Such policy is mentioned as according to what stated by Islam. In Islam, target of study (thalabul ilmi) is to form behavior of individual to be high ethical standards (akhlaqul karimah). Those who gained a lot of science, but do not bear fruit charitable of kindliness, hence that science becoming no meaning. </span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Ibnu Qoyyim in &#8220;<i>Ahkam Al-Maulud</i>&#8221; said, “The need of a child is an attention to his behavior. He will grow according to what accustomed by his educator.”</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Thus, if a child in his early growing accustomed by fulminate, headstrong, hurried and easy to follow passion atmosphere, gratuitous, greedy and so on, hence will be difficult for him to recover and avoid that impious actions (sayyiat) when adult. <span> </span>Such impious actions will become the nature of and the coherent behavior at him self. <span> </span>If he is not shaped from that impious actions, hence at one particular that conduct will emerge. Therefore we find most human being which his behavior digress that because of education which passing by them.&#8221;</font><a name="_ednref2" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn2" title="_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Following proposed a polemic about the objective of religion education in school; science versus academic morality; free science and Islam assess; morality in contact of national education of Indonesia versus cultural properties socialize Indonesian nation; and implementation of morality values ( akhlaqul karimah) at school as reflection from cultivation of <i>akhlaqul karimah</i> values which emphasized by The Prophet SAW ( Serah of Prophet).</font></span><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span></b><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">B. Polemic about the Objective of Religion Education in School</font></span></b><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">The existent of religion education in school in </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;"> is becoming subject of a polemic.<span>  </span>The polemic concerned its existent and its objective. Concerning to its existent, whether education of religion properly in the form of separate subject, or integrated into entire education activity? While concerning its objective, whether education of religion emphasized aspect of enforcer, religious service, or aspect of morality development?&#8221;</span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">In answer to that question, The Government of Indonesia emphasized that religion education at school do not only comprehended “knowledge.&#8221; And the objective of religion education in practice, do not only addressed to uphold “religious service&#8221; but also to form “moralities&#8221; of Indonesian nation. This policy represent respond to those who critical that religion education at school only tend to comprehended as “knowledge&#8221; and tend to uphold religious service than to form moralities (akhlaqul karimah).</font><a name="_ednref3" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn3" title="_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a></span><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">The Government of Indonesia realizes that life reality requires both religion and moral. Unfortunately, the phenomenon of religiosity more influenced than morality. This is why some of Indonesian nation proposed that moral education more precise for </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;">.<a name="_ednref4" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn4" title="_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Along with religious conference polemic or the moral, religion education progressively gets more strengthen. It was because of The Government of Indonesia—through The Act of National of Education System—confirm even provide with emphasizing <i>that every learner in an educational unit is entitled to received religious education in accordance with his/her religion, imparted by and educator who has the religion</i> (Article 1 of National Education System Act). It means, moral education separately (as subject) shall no longer be promoted to replace religion education. In accordance with this policy, The Government of Indonesia emphasizes that religion education should develop moral values (Akhlaqul karimah) as expected by nation.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">C. Science versus Academic Morality</font></span></b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Every religion positions its self as a group of glory values in this world. Whether related directly to human being or everything around them.<span>  </span>It was no need to debate whether sciences are free from morality values or have to be influenced by morality values, because value of religion have to influence science and nation morality.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Islam, Christian, and Roman, for example, integrate religion and education in the institutes of education which they manage. If religion becomes an indivisible aspect from education sector, hence the school managed by a state in fact will not deny this compulsion. Dissociation of religion and education, either directly or indirectly, will invite polemic and confrontation. In state with one believe (religion), problem becomes relative modestly. But in state with religion manner, study of religion becomes more complex. The only way to neutralize situation for example, is to emphasize the values of moral in religiosity as the objective of all religion. Based on this reason, some states emphasize moral education instead of religion lesson.</font></span><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;"> look into religion not solely moral, because religion beside own moral dimension, also contain other dimension, for example religious service. Therefore the Government of Indonesia does not emphasize moral lesson instead of religion subject, on the chance of the religion remain to be comprehended is broader than moral.<span>  </span>Become beside teach moral, dissimilar neither dimension in religion nor defeated. This Statement is anomalous in fact, because religious service, akidah and so on intrinsically is also moral.<span>  </span>Prophet Muhammad (peace be upon Him) said: </span></font><b><span style="font-family:'Simplified Arabic';" dir="rtl">اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُ تَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاََق</span></b><span dir="ltr"></span><b><span style="font-family:'Comic Sans MS';"><span dir="ltr"></span> </span></b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">(My Brochure Mission just too complete moral of human being in order to the glory). This tends to comprehended by society.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Discourse of diametrical relationship between moralities and scientific attitude in fact have become topic of dispute for a long time. Each of moral and science assumed as a part of knowledge having separate character. The essence of moral is a guide which should be conducted by human being.<span>  </span>On the contrary, science ever cope to lay open reality as what the existence. Science assumed as free knowledge assess, more having the character of dogmatic. While moral always tend to force that values, even to erudite argument. In fact, there is no need to make dichotomy between science and moral, because the growth of science cannot be discharged from ethics and moral (akhlaqul karimah).</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Justice story to Galileo by religion power at 1633, in the beginning considered to be a historical bollard of science liberation from moral values. But at last decade, all of us witness praised drama at case of &#8220;cloning&#8221;. Even though cloning influenced all scientist to explore science and technology, but finally cloning have to harvest criticism because at variance with the moral values. This Statement—moral and science union—did not mean that the enforcing assess of moral for science will push science withdraw rear. Scientific observation cause remain to expand, as long as can be used and exploited for human life necessity. Equally, scientific attitude to science use own ground its morality. If that way, hence view Galileo ( 1564-1642) refusing religion dogma that &#8220;sun rotate to encircle earth,&#8221; having the power of science which still bother morality value, because there is verification for dogma which is disagree with factual fact as found by Copernicus (1473-1543). Therefore it can be tolerable. On the contrary, case cloning also has the power of science but without morality giving benefit for human being; only condescend to human being, therefore it competent to be discontinued.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">D. Free Science and Islam Assess</font></span></b><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Prophet Muhammad SAW said, what its meaning: &#8220;Allah SWT will be optimal of His torture in doomsday to bookish people which his science do not give benefit&#8221;, implying the important of morality to all scientist. Even Al Qur’an and Hadits of Prophet repeatedly order mankind look for science, but the key safety of human being in this world and in the day after (yaumul akhirah) in the end is not determined by science itself, but by the morality or noble character (akhlaqul karimah) of the scientist. That is why Prophet Muhammad SAW affirm that his arrival mission none other than to complete akhlaqul karimah. Though in that behavior completion process, science become its prerequisite (hadits). Even manifestly in verses of Al Qur’an, Allah SWT curses scientist clan whose utilizes his science for lying against Allah, as He has said in the Qur’an:</span><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:'MS Sans Serif';"></span></font><span style="font-size:20pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic';">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِى الْحَيَوٰٰةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللهَ عَلَى مَا فِى قَلْبِهِ وَ هُوَ أَلَدّ ُ الْخِصاَمِ .<span>  </span></span><span style="font-size:20pt;line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic';"></span><span dir="ltr"></span><i><span><span dir="ltr"></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></span><font face="Times New Roman">“And of mankind there is he whose speech may please you (O Muhammad SAW), in this worldly life, and he calls Allah to witness as to that which is in his heart, yet he is the most quarrelsome of the opponents”</font></i><b><font face="Times New Roman"> (Al-Baqarah, 2:204)</font></b><span style="font-size:11pt;color:black;"><font face="Times New Roman">Thereby, science is not a guarantee to become guide for its owner, as affirmed in Holy Qur’an:<span dir="rtl"></span></font></span><span style="font-size:20pt;color:black;font-family:'Traditional Arabic';">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجٰـدِلُ فِى اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَـٰنٍ مَّرِيْدٍ .</span><b><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span></b></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0.5in 0 27pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><i>”And among mankind is he who dispute concerning Allah, without knowledge, and follows every rebellious (disobedient to Allah) devil (devoid of every kind of good.”</i> (Al Hajj, 22:3)</font></p>
<p><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">In fact, Al Qur’an itself does not border by the existing of science as free knowledge assesses (value free). That matter is proven with the nature of science which multifunction. Science can be used to good advantage and for the badness. Science also have the character of universal and communal, it means that science becomes cooperative ownership, so that each and everyone is entitled to explore it. A lot of among science does not show promise for its owner, but same science for other become source of guidance (Hidayatan limustahiqihi).<span>  </span>Based on this reason, Islam remain to free science as hikmah (neutral knowledge) for its explorer (hadits), and at the same time Allah gives values which must be developed by the user.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">The independency of science as mentioned above, totally dissociated from the owner, so that if all kind of science accepted by Islam as neutrally, hence do not that way by the owner of <span> </span>science (usually referred as a Moslem scholar). Imam Ghazali has referred the classification which made by Prophet Muhammad SAW for Moslem scholar become two: (1) Eternity Moslem Scholar (Ulamaul Akhirah), that is real a correct scientist and (2) Sin Moslem Scholar (Ulamaus Su’), that is a scientist which fall to pieces. <span> </span>If the classification in that way attributed by a noble attitude which should be demanded by all scientist, hence at the end is the demand to all scientist in order to have a noble character in respect of professional and social responsibility among society.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Professional responsibility and the social is a phenomenon in which science develops as according to moral values, so that can give benefit for life. Intellectual who conducting scientific betrayal for example, as proposed by Julian Object, representing one of bouncing dissolute scientist. In consequently, Islam agrees in cursing him. Prophet Muhammad SAW He himself explicitly appreciates to those who murdered because of criticizing the wrong action (mistake) of the sovereign. According to Prophet SAW, those who murdered in that way are dying in a best holy war (Syahid). Hence one of shahabah (Huzaifah RA) mentioned intellectual betrayal as a source of all libel, because they let sovereign with falsehood.</font><a name="_ednref5" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn5" title="_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">This as according to principle of Prophet Muhammad (peace be upon Him) mission:</font></span><span style="font-size:14pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span></span><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';" dir="rtl">اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُ تَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاََق</span></b><span dir="ltr"></span><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Comic Sans MS';"><span dir="ltr"></span> </span></b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“My Brochure Mission just too complete moral of human being in order to the glory”. Behavior by itself becomes motto of conducting education.<span>  </span>It was because in the day after, human being have to response his life in front of Allah SWT, what can make them pass and get away from heaven<span>     </span>is only their behavior. Not merely their science. <span> </span>Those who gained more knowledge which only in the form of science, however is not combined with excellence behavior (akhlaqul karimah), like case of all corruptor which in fact is clever coon, only mirror meaning of height ladder of their education becoming nothing. It means nothing (Mubazir) in the eye of Allah SWT and even in human being level.</font></span><font face="Times New Roman"><b>E. <span style="color:black;">Morality in Contact of National Education of </span></b><b><span style="color:black;">Indonesia</span></b><b><span style="color:black;"> versus Social Culture of Indonesian Nation</span></b></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Urgency of academic morality in attitude development framework as explained above was a part of vision, mission and the objective of Indonesian nation in compiling and developing education system. It was described in Article 3, National Education System Act of The Republic of Indonesia No.20 Year 2003, that is: “<i>the national education functions to develop the capability, character, and civilization of the nation for enhancing its intellectual capacity, and is aimed at developing learners’ potentials so that they persons imbued with human values who are faithful and pious to one and only God; who possess morals and noble character; who are healthy, knowledgeable, competent, creative, independent; and as citizens, are democratic and<span>  </span>responsible</i>.</font></span><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Spirit of aforesaid section is that the development of scientific attitude must be conducted by values of kindness of ethic and also good morality (akhlaqul karimah). In framework, a kind of this, is domain of science and values developed in system of </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;"> education. Domain of Value which aim to build the attitude relate to scientific attitude, values of religion and Indonesian nation culture. Such values were the core important at basic education and secondary education. For example emboldening of byword, ceremony execution, marching, saying greeting and act other order to train to uphold discipline and work to devote to train sensitivity to environment, development of responsibility attitude, self-supporting, owning job ethos, polite, tolerance, etcetera.</span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">As support to the policy, trend of private education sector in </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;"> has expanded providing education based on science and moral. For example the growth of Islamic school, boarding school of madrasah, developing pesantren become organizer of manner, type and ladder set of the education, and others.</span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">This reality explicitly has been appreciated by National Education System Act of The Republic of Indonesia, Article 55 (1), that is: <i>&#8220;Community shall have the rights to provide community-based education at formal and non-formal education in accordance with the specific religion, social norms, and culture for the benefit of the community.”</i> Cultural and social factor have been realized as a vital importance to anticipate the appearance of factors which can to become cause pursuing of educational implementation which was expected by the Government of Indonesia. Governmental Attitude of Indonesia which accommodates to various democratization demand, autonomy, and also decentralize to have a share to mark change process. Of course, this matter own significant impact to the change of policy in education sector.</font></span><span dir="rtl"></span><b><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></span></b><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">A part of the democratization element for example fulfilling of demand that education and religion study in </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;"> arranged and corrected in order to synchronize its objective. The willingness to emphasize the portrait of religion study emerged as warmest issue as long as national education reform takes place, the core important before authentication of National Education System Act No. 20 Year 2003. Its target only one: how religion education taught in school can improve nation morality become well. Not merely limited to what religion and learnt to whom, or whose teach religion, however whether entire religion that taught by, after all its pattern is altered based on selection of so much people desire alternative, as provisions in the said Act, can create human being of Indonesia more have moral than previous?</span><b></b></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">In the irony of separateness of science and moral which horrible, organizer set of education with religion nuances, fore instance pesantren, emerge popular progressively, reclaiming attention, and become a model. <span> </span>Organizer Education of this alternative does not always name itself as pesantren, but a lot of those who name it with an institute of organizer system of inwrought education (pendidikan terpadu). What ever the term which they use, the core important is an effort for combining science and moral.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">F. Implementation of Morality Values ( Akhlaqul Karimah) at School</font></span></b><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">As have been proposed that scientific attitude development must be conducted by values of kindness of ethic and also good morality (akhlaqul karimah). In framework, a kind of this is domain of science and values developed in system of </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;"> education. Value domains which aim to build the attitude relate to scientific attitude, Indonesian nation culture and religion values. Such values were the core important at basic education and secondary education.</span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Subject of curriculum in the system of education in </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;"> includes moral education and religion education since year 1947. <span> </span>Moral education and religion education as compulsory subject for all education aimed to form good attitude. In the beginning of year 1975, Government provides a guardian and counseling teacher to form student personality. In 1994 Government enter item of faith (iman) and piety (taqwa) into subject and also insert item of ethic education for religion and PPKN Lesson area. <span> </span>Other program to construct faith, piety and moral improvement is execution pesantren gleam or of a kind conducted in school each month of the Ramadan or represent the part of activity after accepting new student. Those various policy and program that school really shows how level of effort which has been conducted by The Government of Indonesia to yield student which have moral.</span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">The education of ethics (akhlaq) which conducted in schools, at basic education and secondary education, as decanted in standard fill (Standard Isi) pursuant to Regulation [of] Minister of National Education number 22 year 2006, including three aspects: (1) accustoming behavior praised (tathbiiqus suluk al mahmudah), (2) avoiding the nature of culpable (ib’aadus suluk al sayyiah), and (3) applying civil of manners (tathbiiqul Adaab Al Yaumiyyah). In detail can be proposed as the following.</font></span><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">1. Sekolah Dasar (Basic Education)</font></span></b><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"><span>a)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;">Accustom behavior praised: downright, holding responsible, clean life, discipline, diligent, mutually help, respect to parent, low [of] liver, simple life, self confidence, assiduous, economical, a friend at court, hard work, humane to animal, and humane to environment.</span></span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"><span>b)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;">Present respectably: eat and drink, civil learn, civil defecate and minimize, respect and decent to teacher, and decent to neighbors.</span></span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"><span>c)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;">the behavioral Byword: repent of Prophet Adam AS, childhood of Prophet Muhammad SAW, Prophet of Ibrahim AS, Prophet of Ismail AS, Prophet of Ayyub AS, Prophet of Musa AS, Prophet of ‘Isa AS, Khalifah Abubakar RA, Umar Bin Khattab RA, obstinacy of struggle of clan of Muhajirin in everyday life in environment of educative competitor, and mutually help of clan of Anshar in everyday life in environment of educative competitor.</span></span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"><span>d)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;">Avoid behavior (culpable): grudge (hasad) like Abu Lahab and Abu Jahal and lie (Kadzib) like Musailamah Al Kadzab.</span></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">2. Sekolah Menengah Pertama (Secondary Basic Education)</font></span></b><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"><span>a)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;">Accustom behavior praised: tawadhu, ta&#8217;at, qana&#8217;ah, patient, hard work, resilient, assiduous, accurate, zuhud, tawakkal, and tasamuh in everyday life.</span></span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"><span>b)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;">Present respectably: eat and drink in everyday life</span></span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"><span>c)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;">Avoid behavior ( culpable): resentful, hypocrisy, and takabbur in everyday life</span></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">3. Sekolah Menengah Atas (Secondary Education)</font></span></b><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"><span>a)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;">Accustom behavior praised: husnuzhan, bertaubat and king&#8217;, esteeming masterpiece of fair others, ridha, doing a good deed shaleh, and show association and reconciliation in everyday life.</span></span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;"><span>b)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:black;">Present respectably: in dressing, dressing smartly, journey, being coming guest and or accept guest in everyday life.</span></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>c)<span>  </span>Avoid behavior ( culpable): big sinning, isyrof, tabzir, ghibah and libel in everyday life<span>     </span></font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">All the represent ethic construction elements (akhlaqul karimah) to all student at school as reflections from serah Muhammad SAW. If we study furthermore, hence we can formulate pillar for ethic constructions, for example:</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">1. Sincerity (As Sdidqu)</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Sincerity represents one important pillar among Islam pillar. To focused and confirm this matter is required by hard work. Rasulullah SAW He Himself give attention to inculcate that conduct at child himself. He also gives guidance to parent in order to familiarize sincerity. This for the purpose of in order to they do not come into culpable dishonesty, then do lie to child which in the end will be imitated by child.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Prophet Muhammad SAW placed common principle that child as the human being having rights in the case of human interaction (muamalah). It was not right for parent to cheat or lie of any way and deny interaction (muamalah) with child.</font></span><font face="Times New Roman"><span>Abu Dawud reports from Abdullah bin Umar that he says,“One day My mother called me.“ At the same time Rasulullah SAW was sitting with us in our home.<span>  </span>May mother said,“Come here, I will give you something“!</span><span style="color:black;"></span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Rasulullah SAW then enquires, what will you pass to him?&#8217; He replies, I will give him date. He saids, if really you do not give something to him, hence you guarantee sin (lying).&#8221; <span> </span>Imam Ahmad reports from Abu Hurairah that Rasulullah SAW said, whosoever saying to his child, Here, I give something, but really he does not give it to him, hence he was written with liar.&#8221;</font><a name="_ednref6" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn6" title="_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">2. Cordiality, Do not Grudge</font></span></b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>Attitude of Cordiality and far from malice will realize balance of soul for human being and will accustom to always love to kindliness for society. He also will give way for kindliness of soul of human being for gaining the success in the life.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>Prophet of Muhammad SAW have appreciated shahabah Anas bin Malik when he was young (child)—to clean stain of soul in morning and afternoon—by giving forgiveness to each and everyone doing ignorant to him, as well as emptying his soul from evil tendencies in his mind.</font><a name="_ednref7" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn7" title="_ednref7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">In addition, Islamic scholars</font><a name="_ednref8" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn8" title="_ednref8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> have suggested that there are three states or stages of the development of human soul or <i>nafs</i>: (1) <i>ammārah</i> (12:53), which is prone to evil, and, if not checked and controlled, will lead to perdition; (2)<i> lawwāmah</i>, (75:2), which feels consciousness of evil, and resists it, asks for Allah’s grace and pardon after repentance and tries to amend; it hopes to reach salvation; (3) <i>muthma’innah</i> (89:27), the highest stage of all, when the soul achieves full rest and satisfaction after <i>‘aql</i> (intellect) has checked the evil tendencies of man.</font><a name="_ednref9" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn9" title="_ednref9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">If a Muslim persists in behaving unethically, he is succumbing to the <i>ammārah</i>; if he is behaving Islamically, he is fighting the evil impulses of the <i>ammārah</i>, and responding to the direction of <i>lawwāmah</i> and <i>muthma’innah</i>.<span>  </span>Of course, what will govern his ethical behavior and the interaction among these three states of the soul is his level of <i>taqwa</i> or piety.<span>  </span>Depending on which level his <i>nafs</i> is at and whether he is winning or losing the battle against temptation and evil, he may be more or less prone towards behaving ethically.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">3. Adabul Mu’amalah (Civil Manner)</font></span></b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>Al Hafizh Ibnu Hajar said: Adab is use deed or word praised. This matter is referred with excellence behavior (makarim al akhlaq). Other named it as &#8220;good behavior&#8221;. Or &#8220;one who respect to the older and wise polite the younger&#8221;. Or “He is taken because he invite for that” </font><a name="_ednref10" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn10" title="_ednref10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>Al Junaedi RA has been questioned about adab, and then said: &#8220;<i>Adab</i> [is] good association” </font><a name="_ednref11" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn11" title="_ednref11"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>Therefore, the urgency of <i>adab</i> can be found clearly in interaction (mu&#8217;amalah) and association. Even he become outward appearance from youngster and also parent. Therefore, inculcating <i>adab</i> to child represent priority from moral education (behavior).</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>Poet Shalih bin Abdul Quddus says: </font><a name="_ednref12" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_edn12" title="_ednref12"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a></span><i><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Child which you teach him adab in a period of youth</font></span></i><i><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>Execute tree bar which you pouring water when planting it</font></span></i><i><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>So that you see it full of fresh leaves </font></span></i><i><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span> </span>After previously you saw the tree drying.”</font></span></i><i><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"> </font></span></i><b><span><font face="Times New Roman">G. Conclusion</font></span></b><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">Indonesian nation have experienced of challenge from various life aspect covering information globalization impact, endless economics crisis, nation disintegration, and rare of employment. Even hitherto, social and moral crisis still dominate nation and state life. These conditions—have consequence—decrease the quality of social life in general.</font></span><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Based on this reason, The Government of Indonesia has conducted various efforts to overcome the issues. One of them is developing human resource so that become solid. Preeminent human resource represent biggest factor to save Indonesian nation from various troublesome. The excellence human resources include the core important science aspect, technological, and the noble character (akhlaqul karimah) or moral. These aspects always implemented in running national education system in </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;">, either through explicit or implicit.</span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">These aspects represent spirit of union of national education substances. This matter is inspired by the fact that how many world of education especially in </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;"> have wrong emphasis toward education that is only at domain of ICT, neglected side of behavior and kindness of nation ethic.<span>  </span>Such policy is mentioned as according to what stated by Islam. In Islam, target of study (thalabul ilmi) is to form behavior of individual to be high ethical standards (akhlaqul karimah). Those who gained a lot of science, but do not bear fruit charitable of kindliness, hence that science becoming no meaning. </span></font><i><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></i></p>
<div>
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" />
<div><a name="_edn1" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref1" title="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"> Asi, Ghulam HaideR, <i>Dewey and Iqbal on Moral Self and Society: A Comparative Study of Their Thought</i> (Journal Vol. VII. No. 4/ 1985 )</font></font></div>
<div><a name="_edn2" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref2" title="_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"> Suwaid, Muhammah. 2004. Mendidik Anak Bersama Nabi SAW.<span>  </span>Solo: Pustaka Arafah. Hal. 222-223</font></font></div>
<div><a name="_edn3" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref3" title="_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"> Religion education at school<span style="color:black;"> really harvests keen criticism. It was often questioned that many people who considered as a religious person but have no moral.<span>  </span>On the contrary, many people of have moral even just have superficial believe in religion.<span>  </span>This expression was popular among the community.<span>  </span>Even the said issues still disputed. For example expression of Judo of Poerwowidagdo in the news paper of “Suara Pembaharuan”: “Whether education of religion better needn&#8217;t be obliged in curriculum of our school?”<span>  </span>In reality, religion education do not guarantee our student become better, downright have, moral, and noble character (akhlaqul karimah).<span>  </span>Since lesson of religion obliged in school, corruption, collusion, and nepotism exactly increase in our society. </span><span>(Suara Pembaharuan, 22-3-2003)</span></font></font><font size="2"><font face="Times New Roman"><span style="color:black;">Same objection expressed when it was questioned: how far the need of religion education existent defended? Whether religion education there has the character of religiosity or morality? Religion terminology as this religiosity or morality is proposed by Former Rector Muhammadiyah </span><span style="color:black;">jakarta</span><span style="color:black;">, Muchtar Buchori. According to him, our society look into religion education is moral education. Though, both differ.<span>  </span>Religion education is aim to develop religiosity, whereas moral education to morality. </span><span>(Suara Pembaharuan, 17-4-2003)</span></font></font></div>
<div><a name="_edn4" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref4" title="_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"> Some <span style="color:black;">of Indonesian nation propose to return to education of ethic (budi pekerti) along with or minus the religion education. <span> </span>At a period of Abdurrahman Wahid Governance, Minister of Education—Yahya Muhaimin—decide the importance of education of ethic at school even do not become subject. It was afraid that if education of ethic becomes subject in school it will lose its objective and only have the character of cognitive, over all it will also overlap with religion education. Its meaning, beside education of religion which have behavior context, lesson of ethic will replace subject of religion education. Education of ethic, in history of education in </span><span style="color:black;">Indonesia</span><span style="color:black;">, has existing in the form of subject. In some school—in Aceh and </span><span style="color:black;">school</span><span style="color:black;"> of </span><span style="color:black;">Katolik</span><span style="color:black;">—to date remain to maintain it as subject of local curriculum.</span></font></font></div>
<div>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoEndnoteText"><a name="_edn5" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref5" title="_edn5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"><span>  </span><span>Ibnu Quddamah al Muqoddasi. <i>Minhajul Qosidin</i>, pp.6</span></font></font></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoEndnoteText"><a name="_edn6" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref6" title="_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"> <span>Suwaid, Muhammad. <i>Opt.Cit</i>. pp. 244</span></font></font></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoEndnoteText"><a name="_edn7" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref7" title="_edn7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"> <span>Ibid., pp.248</span></font></font></p>
</div>
<div>
<p style="text-indent:-9.35pt;margin:0 0 6pt 9.35pt;" class="MsoEndnoteText"><a name="_edn8" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref8" title="_edn8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Rizvi, S.A. <i>Muslim Tradition in Psychotherapy and Modern Trends</i>. Lahor, Pakistan: Institute of Islamic Culture.</font></p>
</div>
<div>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoEndnoteText"><a name="_edn9" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref9" title="_edn9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Ibid., pp.50-51</font></p>
</div>
<div><a name="_edn10" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref10" title="_edn10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"> <span>Khadar Husain, Muhammad. <i>As Sa’adah al ‘Uzhma</i>, pp.60</span></font></font></div>
<div><a name="_edn11" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref11" title="_edn11"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a><span><font size="2"><font face="Times New Roman"> <span>Imam Sya’rani. <i>Tanbihul Mughtarrin</i>, pp.41</span></font></font></span></div>
<div>
<p style="margin:0;" class="MsoEndnoteText"><a name="_edn12" href="http://gurukeatif.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ednref12" title="_edn12"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a><span><font size="2"><font face="Times New Roman"> <span>Ibnu Abdil Barr. <i>Jami’ Bayan al ’Ilm wa Fazhlihi</i>. 1/86</span></font></font></span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gurukeatif.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gurukeatif.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gurukeatif.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gurukeatif.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gurukeatif.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gurukeatif.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gurukeatif.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gurukeatif.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gurukeatif.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gurukeatif.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gurukeatif.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gurukeatif.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gurukeatif.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gurukeatif.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gurukeatif.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gurukeatif.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=11&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurukeatif.wordpress.com/2008/01/24/implementation-of-morality-values-%d8%a3%d9%8e%d8%ae%d9%92%d9%84%d8%a7%d9%8e%d9%82%d9%8f-%d8%a7%d9%84%d9%92%d9%83%d9%8e%d8%b1%d9%90%d9%8a%d9%92%d9%85%d9%8e%d8%a9%d9%90/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c17efad95300cdec6c05333e0e24319?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hbis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gurukeatif.files.wordpress.com/2008/01/sopan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sopan.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perintah Al-Qur.an tentang menyantuni kaum lemah</title>
		<link>http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/22/8/</link>
		<comments>http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/22/8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2007 04:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bustamam Ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Besar Tanah Air]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/22/8/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah hikmah yang dapat kamu ambil dari fenomena makhluk Allah yang telah diciptakannya berpasang-pasangan? Salah satunya adalah bahwa makhluk tidak akan sanggup hidup sendiri. Mereka pasti membutuhkan orang lain untuk membantu atau melengkapi keberadaan dirinya. Demikian juga dengan adanya orang &#8230; <a href="http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/22/8/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=8&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;" align="left"><a href="http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/22/8/9/" rel="attachment wp-att-9" title="miskin.jpg"><img src="http://gurukeatif.files.wordpress.com/2007/11/miskin.jpg?w=500" alt="miskin.jpg" align="left" /></a><span>Apakah hikmah yang dapat kamu ambil dari fenomena makhluk Allah yang telah diciptakannya berpasang-pasangan? Salah satunya adalah bahwa makhluk tidak akan sanggup hidup sendiri. Mereka pasti membutuhkan orang lain untuk membantu atau melengkapi keberadaan dirinya. Demikian juga dengan adanya orang kaya dan orang miskin. Kita saling membutuhkan satu sama lain meskipunterkadang kita tidak menyadarinya. Kaya ataupun miskin adalah sebuah peluang untuk melaksanakan amal saleh sebanyak-banyaknya menuju ridha Allah SWT</span><span id="more-8"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai kebutuhan yang bersifat fisik dan non fisik. Kebutuhan itu tidak pernah dapat dihentikan selama hidup manusia. Untuk mencapai kebutuhan itu, satu sama lain saling bergantung. Manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin dapat hidup seorang diri. Manusia pasti memerlukan kawan atau orang lain. Oleh karena itu, manusia perlu saling hormat menghormati, tolong menolong dan saling membantu dan tidak boleh saling menghina, menzalimi, dan merugikan orang lain</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Dalam upaya menanamkan kepekaan untuk saling tolong menolong, kita dapat mebiasakan diri dengan menginfakkan atau memberikan sebagian rezeki yang kita peroleh meskipun sedikit, seperti memberikan santunan kepada fakir miskin, orang tua dan jompo, mengangkat anak asuh, memberi bantuan kepada orang yang sedang menuntut ilmu, membangun sarana umum (jalan), serta mencari upaya mengentaskan kemiskinan yang ada di masyarakat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>A.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">     </span></span></span><!--[endif]--><span>Al Qur’an surat Al-Isra’ ayat 26-27.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Bacaan <em>Lihat Al-Qur.an</em> <span> </span>terjemahannya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-42pt;"><span>Artinya : <em>“(26) Dan Berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang ada dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghamburkan (hartamu) dengan boros. (27) Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya setan dan sesungguhnya setan itu sangat ingkar kepada tuhannya.”</em> (QS Al Isra : 26-27)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>2. Isi Kandungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Pada ayat 26, dijelaskan bahwa selain berbakti, berkhidmat dan menampakkan kasih sayang, cinta, dan rahmat kepada kedua orang tua, kita pun hendaknya memberi bantuan kepada keluarga yang dekat karena mereka yang paling utama dan berhak untuk ditolong. Mereka patut mendapat bantuan hidup di tengah keluarga terdekat yang mampu karena pertalian darah. Mereka pasti ada yang hidup lebih berkecukupan dan ada yang kekurangan sehingga kita sebagai keluarga harus saling membantu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Allah memerintahkan manusia untuk berbakti dan berbuat baik tidak hanya kepada orang tua saja, namun masih harus berbakti kepada tiga golongan yang lain, yaitu:</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>kepada      kaum kerabat</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>kepada      orang miskin</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>kepada      orang terlantar dalam perjalanan.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Pada ayat 27, Allah mengingatkan bahwa betapa buruknya sifat orang yang boros. Mereka dikatakan sebagai saudaranya setan. Orang yang boros bermakna orang yang membelanjakan hartanya dalam perkara yang tidak mengandung manfaat berarti. Ada sebuah hadis yang terkait dengan perbuatan mubazir (boros) ini, yakni yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar. Dia berkata bahwa rasulullah telah melintas di tempat Saad sedang mengambil wudu, kemudian rasulullah menegur Saad karena begitu boros. Lalu Saad menanyakan apakah di dlam wudu juga terdapat boros (mubazir)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>B.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">     </span></span></span><!--[endif]--><span>Al Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 177.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>1. Bacaan <em>lihat Al-Qur,an <span> </span></em><span> </span>terjemahannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-42pt;"><span class="gen"><span>Artinya:<em>Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. </em></span><em><span>Mereka itulah orangorang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqoroh:177)</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-42pt;"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-1in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">     </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;">Isi Kandungannya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>a<strong>. </strong>Tentang Kiblat dan Keimanan</span><span style="font-size:14pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span class="gensmall"><span>Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Qatadah menerangkan tentang kaum Yahudi yang menganggap bahwa yang baik itu shalat menghadap ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 177). </span></span><span><br />
<span class="gensmall"><em>(Diriwayatkan oleh Abdur-razzaq dari Ma&#8217;mar, yang bersumber dari Qatadah. </em></span></span><span class="gensmall"><em><span>Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil &#8216;Aliyah.)</span></em><span> </span></span><span></span></p>
<p><span>       </span><span class="gensmall">Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 177) sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang &#8220;al-Bir&#8221; (kebaikan). Setelah turun ayat tersebut di atas (S. 2. 177) Rasulullah SAW memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan &#8220;Asyhadu alla ilaha illalah, wa asyhadu anna Muhammadan &#8216;Abduhu wa rasuluh&#8221;, kemudian meninggal di saat ia tetap iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur. </span><br />
<span class="gensmall"><em>(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Qatadah.)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span class="gensmall"><em><span> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span class="gensmall"><span>Orang yahudi menganggap bahwa kiblat( tempat menghadap) itu ke barat sedangkan orang Nashrani menganggap kiblat( tempat menghadap) itu ke Timur. Maka Allah memberikan bimbingan bahwa menghadap kiblat adalah kepada apa diperintahkan oleh Allah, Maka tatkala Allah perintah menghadap Baitul maqdis ( Palestina) itulah kebajikan tetapi tatkala Allah perintahkan kiblat ke Masjidil Haram dan itu pulalah kebajikan karena kesana Allah perintahkan.<span>  </span>Itulah yang dimaksud bahwa kebajikan itu berdasarkan <span> </span>Iman yang kepada Allah, Iman kepada<span>  </span>Hari Akhir, Iman kepada kepada kitab-kitab Allah dan Iman kepada Para Nabi-nabi. <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>b</span><span style="font-size:14pt;">. </span><span>Kepedulian social</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span>Kita diperintahkan oleh Allah untuk menyisihkan harta yang kita cintai itu, untuk diberikan kepada kaum kirabat, dan kepada para yatim piatu, dan orang-orang yang miskin dan orang-orang yang membutuhkan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>c<strong>. </strong>Berbuat yang terpuji.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;"><span>Ayat itu menjelaskan kepada kita supaya kita<span>  </span>sabar, menepati janji, berlaku adil, berbuat baik dan sebagainya. Kebahagiaan itu adalah bila kita melaksanakan yang diridoi oleh yang maha pencipta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>LATIHAN</span></strong><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>A.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">     </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d atau e sesuai dengan jawaban yang paling tepat!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Sesungguhnya orang-orang boros itu saudaranya setan. Pernyataan tersebut terdapat dalam Al Qur&#8217;an surat &#8230;</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Al Isra :      26</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al Isra :      27</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al Isra :      28</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al Isra :      29</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al Isra :      30</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Yang dimaksud ukhuwah islamiyah adalah &#8230;</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>orang-orang      Islam</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>golongan      Islam</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>persaudaran      umat Islam</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>golongan      radikal</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>teroris</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Dalam Al Qur&#8217;an surat &#8230; Allah SWT melarang umat manusia menghamburkan harta</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Al Baqarah      : 12</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Ali Imran      : 14</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al Maidah      : 20</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al Isra :      26</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>An Nur : 30</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Pada surat Al Isra : 27 terdapat hukum bacaan alif lam syamsiah sebanyak &#8230; buah</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>1</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>2</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>3</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>4</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>5</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Orang yang baru masuk Islam disebut &#8230;</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>mukallaf</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>muallaf</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>amil</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>khalifah</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>murtad</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>6.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Pernyataan bahwa setan itu ingkar kepada tuhannya terdapat dalam Al Qur&#8217;an surat &#8230;</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>At Taubah      : 37</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al Furqan      : 52</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al Maidah      ; 70</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al Isra :      27</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>An Nisa :      45</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>7.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Hukum bacaan alif laam qamariyah pada surat Al Isra : 26 berjumlah &#8230; buah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>a.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span>satu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>b.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>dua</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>c.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span>tiga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>d.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>empat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>e.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span>lima</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:24pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>8.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Manusia tidak mungkin hidup seorang diri. Dalam hidupnya manusia pasti membutuhkan orang lain. Hal tersebut dikarenakan manusia sebagai &#8230;</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>makhluk      beriman</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>makhluk      sosial</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>makhluk      mandiri</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>makhluk      budiman</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>makhkluk      bermoral</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>9.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Arti Kalimat<span>    </span>(Zalqurba)adalah&#8230;.</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Keluarga      dekat</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Jangan      menghamburkan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Orang-orang      miskin</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Secara      boros</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Orang yang      boros</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>10.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">  </span></span></span><!--[endif]--><span>Pernyataan-pernyataan berikut ini benar, kecuali &#8230;.</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Orang yang      boros itu saudaranya setan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Orang yang      harus dibantu pertama kali adalah keluarga dekat</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Manusia      diperintahkan untuk menghambur-hamburkan harta.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Makhluk      yang ingkar adalah setan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Manusia      harus saling tolong menolong.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>11.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">  </span></span></span><!--[endif]--><span>Pada kata( assabil)<span>  </span>terdapat hukum bacaan<span>  </span></span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>alif lam      qamariyah</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>alif lam      syamsiah</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>idgam      bilagunnah</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>mad wajib      muttasil</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>mad jaiz      muntasil</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>12.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">  </span></span></span><!--[endif]--><span>Orang yang paling berhak mendapat bantuan adalah &#8230;</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>orang      boros</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>pembantu      rumah tangga</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>fakir-miskin</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>buruh      pabrik</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>anak yatim      yang kaya</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>13.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">  </span></span></span><!--[endif]--><span>Pernyataan-pernyataan berikut ini adalah salah, kecuali &#8230;</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Membelanjakan      harta berlebihan pertintah Allah</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kita harus      menyantuni orang-orang yang boros</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Membelanjakan      harta tidak berlebihan dan tidak kikir</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Orang yang      boros disayang Allah</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Hidup itu      harus saling menolong</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>14.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">  </span></span></span><!--[endif]--><span>Kata<span>  </span>(tabzir)<span>  </span>bermakna &#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>a.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span>orang boros</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>b.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>pembantu rumah tangga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>c.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span>fakir-miskin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>d.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>buruh pabrik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>e.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span>anak yatim yang kaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>17. Kata<span>   </span>(ibnu sabil)<span>  </span>bermakna&#8230;<span>                                  </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>a<span>    </span>orang boros</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>b.<span>   </span>pembantu rumah tangga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>c.<span>   </span>buruk pabrik</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>orang yang      terlantar</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>anak yatim      yang kaya<span>       </span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>18. Kata<span>    </span>(masakin) bermaka&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span>      </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>a.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span>orang boros</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>b.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>pembantu rumah tangga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>c.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span>fakir-miskin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>d.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>buruh pabrik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>e.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span>anak yatim<span>   </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>19. Kata<span>     </span>(wala tubazzir )bermakana&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span>      </span>a.<span>  </span>janganlah boros </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>b. janganlah berlebihan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>c. janganlah berbuat curang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>d. janganlah memfitnah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>e. janganlah berteman dengan setan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>20. Kata<span>     </span>(</span><span>yatama)</span><span><span>  </span>bermakna&#8230;<span>                          </span></span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>orang      boros</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>pembantu      rumah tangga</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>fakir-miskin</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>buruh      pabrik</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>anak      yatim<span>   </span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>B.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">             </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Jelaskan kandungan surat Al Isra ayat 26!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Tulislah ayat Al Qur&#8217;an yang menjelaskan bahwa pemboros itu saudara setan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Apakah yang dimaksud dengan Mubazir? Jelaskan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Mengapa Allah melarang hidup boros? Jelaskanlah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Tulislah hukum bacaan mad tabi’i pada surah Al Isra Ayat 26!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>6.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Dalam Al Qur&#8217;an surat Al Isra : 26 Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menunaikan hak. Kepada siapa sajakah hak itu harus ditunaikan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>7.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Tulislah Al Qur&#8217;an surat Al Furqan ayat 67 beserta artinya!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>8.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Jelaskan maksud yang dikandung dalam surat Al Furqan ayat 67!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>9.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span>Siapa sajakah orang yang berhak disantuni?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>10.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">  </span></span></span><!--[endif]--><span>Jelaskanlah yang dimaksud bahwa setan itu sanga</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gurukeatif.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gurukeatif.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gurukeatif.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gurukeatif.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gurukeatif.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gurukeatif.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gurukeatif.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gurukeatif.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gurukeatif.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gurukeatif.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gurukeatif.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gurukeatif.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gurukeatif.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gurukeatif.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gurukeatif.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gurukeatif.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=8&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/22/8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c17efad95300cdec6c05333e0e24319?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hbis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gurukeatif.files.wordpress.com/2007/11/miskin.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">miskin.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Revitalisasi Teologis Muhammadiyah</title>
		<link>http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/21/6/</link>
		<comments>http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/21/6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 08:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bustamam Ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Besar Tanah Air]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/21/6/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka pengajian Ramadhan 1428 H yang dilaksanakan DPP Muhammadiyah di Yogyakarta 17-19 September 2007, banyak hal-hal yang bersifat konsepsional dibahas baik kaitannya dengan kehidupan keber-muhammadiyaha n maupun hal-hal yang debatable tentang konsepsi dasar kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini sempat &#8230; <a href="http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/21/6/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=6&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/21/6/5/" rel="attachment wp-att-5" title="muhammadiyah.jpg"><img src="http://gurukeatif.files.wordpress.com/2007/11/muhammadiyah.jpg?w=500" alt="muhammadiyah.jpg" align="right" /></a>Dalam rangka pengajian Ramadhan 1428 H yang dilaksanakan DPP Muhammadiyah di Yogyakarta 17-19 September 2007, banyak hal-hal yang bersifat konsepsional dibahas baik kaitannya dengan kehidupan keber-muhammadiyaha n maupun hal-hal yang debatable tentang konsepsi dasar kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini sempat didiskusikan cipratan pemikiran besar beberapa tokoh Islam serantau antara konsepsi kehidupan Islam Hadhari yang dipopulerkan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, konsepsi masyarakat madani oleh Dr. Anwar Ibrahim dan Islam yang Berkemajuan oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin. <span id="more-6"></span></p>
<p>Serta pemahaman Muhammadiyah tentang teologi Al-Maun sebagai sumber inspirasi dan spirit gerakan menuju kemajuan yang adaptif terhadap tuntutan sosio-tekno- kultural. Banyak tokoh-tokoh Islam mulai menyadari bahwa organisasi besar Islam dan pergerakan berbasis agama menghadapi tantangan kuat di penghujung abad-21 ini. Beberapa terminologi yang berkaitan dengan kehidupan nyata masyarakat dan pergerakan yang terorganisir, pergerakan-pergerak an relatif kecil tapi berbasis agama dan ideologi tertentu dihadapkan pada fenomena praksis the end of ideology yang mengasumsikan berakhirnya sebuah ideologi dalam masyarakat dan mengindikasikan tampilnya mozaik individual.</p>
<p>Situasi ini akan berpengaruh terhadap eksistensi kehidupan gerakan namun banyak kelompok masyarakat atau bangsa yang masih tetap memerlukan seperangkat ideologi selonggar apapun lebih-lebih bagi sebuah gerakan islam yang sedikit atau banyak bersentuhan dengan aspek keterkaitan Islam dengan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, yang memerlukan sistem ideologi yang diyakini oleh banyak pengikutnya sebagai faktor determinan keteguhan berpandangan dan bersikap menghadapi interfensi dan infiltrasi dari sistem ideologi yang datang dari luar kerangka kebenaran yang diyakininya. Selain itu terminologi lain yang terasa mengganggu adalah conflict of civilization yaitu perbenturan peradaban yang sebagian dihadapkan kepada perbenturan peradaban barat dengan peradaban islam. Kondisi seperti ini harus dipahami oleh tokoh-tokoh masyarakat Islam sebagai tantangan sosio kultural dan harus mampu mencari pijakan yang pasti dan kokoh serta mempunyai argumentasi yang cerdas dalam kedudukan yang berimbang dan terhormat.</p>
<p>Di sinilah letak strategis peranan tokoh-tokoh besar islam abad modern ini yang berwajah cerdas, adaptif dan berkemajuan serta penuh senyum dan berwajah modern, yang direpresentasikan oleh Dr. Abdullah Ahmad Badawi dan Prof. Dr. Din Syamsuddin. Untuk menggapai posisi tawar Islam yang begitu bermartabat perlu pemahaman yang hakiki sebagaimana menurut Haedar Nasir agama Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa untuk memahami sesuatu secara benar dan mendalam. Kata-kata afala tatafakkarun, afala tatadzakkarun, afala tatadabbarun, afala ta’lamun, dan berbagai kalimat dan sighat lainnya yang senapas mengandung arti agar setiap muslim atau manusia harus memahami sesuatu secara benar dan mendalam untuk mencegah kekeliruan, kesalahan, dan kesesatan.</p>
<p>Maka orang Islam dituntut untuk menjadi ulinuha, ulil albab, ulil abshar, memahami teks dan konteks serta hal esensial lainnya dalam horizon yang luas yang dalam dunia filsafat kita kenal dengan istilah verstehen, yaitu cara berpikir filosofis untuk memahami secara mendalam dan menangkap makna mendalam dibalik gambaran fisik dari sesuatu, agar siapapun tidak gegabah atau gampang menyimpulkan sesuatu. Dalam hal ini sikap adaptif Muhammadiyah terhadap sosio-tekno- kultural (baca: peradaban) terlihat dari cara penentuan jatuhnya satu Syawal dari menggunakan metode ruhyat ke penggunaan metode hisab dengan kemampuan melakukan perhitungan matematis pergerakan bulan, bumi dan matahari.</p>
<p>Ada kebiasaan dalam domain pergerakan di dunia bahwa setiap seratus tahun selalu diadakan reuni dan perenungan yang umumnya melakukan ritual kesejarahan untuk mengenang masa lampau dan berharap bisa menerobos ke masa depan dalam semangat revitalisasi sekaligus menjadikan semangat ini sebagai centennial revitalizing, dimana kurun waktu seratus tahun yang akan ditinggalkan dijadikan momentum untuk kebangkitan kembali yang sering kita dengar setiap pergantian abad selalu ada semangat yang menggelora yang kadang cenderung hanya bersifat sloganisme belaka yang disampaikan tanpa adanya pemahaman afala tatafakkarun. Seperti halnya Muhammadiyah hampir satu abad ini harus melakukan ikhtiar merancang bangun kembali kebangkitannya melalui revitalisasi terutama terhadap konsep teologis yang mendasarinya sebagai komitmen ketuhanan dalam bentuk merekonstruksi pemikiran-pemikiran dasar ke-Muhammadiyahan yang tonggaknya ada dalam surat Ali Imran 104 sebagai dasar komitmen teologi Al-Maun yang oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin dikenalkan sebagai Islam yang berkemajuan.</p>
<p>Sementara kita pahami komitmen ialah perjanjian atau ikrar kesetiaan yang mengikat seseorang pada sesuatu yang menjadi kesepakatan dan dianggap penting dalam hidup. Secara teologis, manusia hidup memiliki komitmen yang hakiki yang dijadikan kontrak oleh ruh-nya yakni komitmen bertuhan. Dilain pihak secara sosiologis, manusia memiliki komitmen diri dalam relasi kehidupan sekitarnya yang disebut kontrak sosial. Dari dua komitmen dasar inilah manusia tidak bisa lepas dari keterikatan transendental dengan Tuhannya dan diikuti keterikatan sosial dalam kehidupan dalam masyarakat. Berdasarkan komitmen ada sesuatu yang menjadi dasar ikatan yang menjadi acuan sekaligus janji batin untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan niat dan kesepakatan awal baik dalam bentuk perorangan atau bersama-sama dalam persyarikatan.</p>
<p>Di sinilah makna revitalisasi teologis dapat memperbaharui, mencerahkan pemikiran dalam bentuk merekonstruksi pemikiran-pemikiran , aliran-aliran, ideologi semua pergerakan dengan semangat revitalisasi dan sinergitas sesama organisasi-organisa si berbasis agama. Apabila semua gerakan dengan metode dakwah Islamiyah dibiarkan berkembang tanpa ada ikhtiar revitalisasi teologis pasti akan muncul dakwah-dakwah simbolis, romantisme dan berbau popularitas perorangan tanpa semangat pembaharuan. Simbolisme dakwah yang berkembang saat ini dimotori oleh figur perorangan yang nasibnya sangat ditentukan popularitas figur tersebut yang jatuh bangun seperti nasib Aa Gym pada sisi romantismenya dan Ustad Abu Bakar Ba’asyir pada sisi yang paling ekstrem sampai dianggap tokoh terorisme.</p>
<p>Bahkan berkembang pula dakwah eksklusif di hotel-hotel berbintang dengan bayaran jutaan rupiah yang cenderung menimbulkan kesan komersialisasi dakwah yang jauh dari nilai-nilai luhur dakwah itu sendiri. Pada situasi lain terlihat pula maraknya pengajian yang dilaksanakan di ruang publik oleh beberapa selebritis dakwah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik sesaat golongan tertentu. Realitas masyarakat kita yang sedang mengalami euforia reformasi sampai kepada struktur terbawah dalam masyarakat membawa konsekuensi perubahan kehidupan keberagamaan. Oleh sebab itu perlu sinergitas antara metode dakwah Islamiyah yang ada berbasis konsep revitalisasi teologis yang bisa mengakomodir perubahan-perubahan cara berpikir dan berorientasi adaptif terhadap tuntutan sosio-tekno- kultural yang mungkin bisa membawa masyarakat islam Indonesia ke peradaban dunia yang harmonis.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gurukeatif.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gurukeatif.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gurukeatif.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gurukeatif.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gurukeatif.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gurukeatif.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gurukeatif.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gurukeatif.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gurukeatif.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gurukeatif.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gurukeatif.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gurukeatif.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gurukeatif.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gurukeatif.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gurukeatif.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gurukeatif.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=6&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurukeatif.wordpress.com/2007/11/21/6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c17efad95300cdec6c05333e0e24319?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hbis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gurukeatif.files.wordpress.com/2007/11/muhammadiyah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">muhammadiyah.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://gurukeatif.wordpress.com/2007/09/06/hello-world/</link>
		<comments>http://gurukeatif.wordpress.com/2007/09/06/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 09:25:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bustamam Ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Besar Tanah Air]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=1&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/gurukeatif.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/gurukeatif.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gurukeatif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gurukeatif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gurukeatif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gurukeatif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gurukeatif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gurukeatif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gurukeatif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gurukeatif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gurukeatif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gurukeatif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gurukeatif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gurukeatif.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gurukeatif.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gurukeatif.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gurukeatif.wordpress.com&amp;blog=1659432&amp;post=1&amp;subd=gurukeatif&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gurukeatif.wordpress.com/2007/09/06/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c17efad95300cdec6c05333e0e24319?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hbis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
